Trending

Wednesday, September 24, 2014

Doa Seorang Ayah

Doa Seorang Ayah

(Jenderal Douglas Mac Arthur)

BINTANGPUNBERPENDAR - Seorang jenderal ternama di masa perang dunia ke dua, Douglas Mac Arthur, pada bulan Mei 1952 menulis sebuah puisi yang ditujukan kepada putranya yang baru berusia 14 tahun. Puisi yang mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya, berjudul "Doa untuk Putraku"

"Doa untuk Putraku"

Tuhanku...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. 
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya 
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa 
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku...
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. 
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, 
sanggup memimpin dirinya sendiri, 
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra 
yang mengerti makna tawa ceria 
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat 
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup Kejenakaan 
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku...
Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, 
hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"
------------------------------------------------------------------------------------

RSN : Betapa puisi ini bermakna bagiku, seorang kawan, kakak, yang kini telah menjadi seorang ayah, memperkenalkan puisi ini dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu. Bukan aku tersirat sosok ayah saat membaca puisi ini, namun ada cinta tulus di dalamnya dari seorang kakak yang berusaha menyemangatiku ketika aku jatuh dalam ketidakberdayaan dan airmata. Terngiang puisi ini, saat itu aku mengingat dia, berdoa untuknya. Dan ketika aku jatuh dalam ketidakberdayaan dan airmata (lagi dan lagi), aku akan mengingat dia dan puisi indah ini. Aku akan bangkit, karena aku tahu memang jalan yang tidak lunak ini yang membentukku.

No comments:

Post a Comment

About

Popular Posts

Designed By Blogger Templates