(Ressa Novita)
Kau melihatku datang dari perut awan,
dan menghilang seiring ia memecah diri sehalus debu.
Kau bilang, ada saat Matahari berkuasa di atas bumi,
dan aku hanya tersisa jiwa tanpa raga yang kasat mata.
Kemarau, begitu kau sebut masa-masa itu,
lalu kau mulai meratap saat Kemarau tak juga usai.
Hujan, begitu lah kau memanggilku,
ratapanmu terdengar sendu beberapa kali,
hingga siang itu kau berteriak memaki.
Memaki aku, yang kau lihat tak kunjung datang.
Aku tak pernah pergi,
kunjungi pagi di sudut kebun Seroja mu.
Aku tak menjatuhkan diri, aku bersandar,
aku tak terbawa angin, aku menjengkal bumi dalam diam.
Itu lah mengapa bunga masih mekar meski Kemarau membakar.
Saat itu panggil aku embun,
lalu bisiki aku untuk kembali menjelma Hujan.
Aku akan datang saat kau merindukanku sebagai sentuhan,
bukan sekedar meredakan kehausan.

No comments:
Post a Comment