(Ressa Novita)
Perbedaan mencolok terlihat dari penampilan dan gerak-gerik wanita itu. Seandainya tidak ada sang suami di sampingnya, mungkin si supir berpikir ulang untuk menerimanya sebagai penumpang. Pakaiannya lusuh, mulutnya terus menganga dan ia terlalu sering menggerak kan kepalanya hanya untuk nyengir kuda ke semua orang yang melihatnya dengan tatapan iba. Persis orang dengan gangguan jiwa.
Tapi bersama sang suami, ia menciptakan rasa yang berbeda di ruang sempit angkot merah ini.
Bunda ku sesekali melirik pasangan itu, lalu melemparkan senyumannya ke arahku. Mungkin maksudnya "Lihat mereka!"
Tangan mereka bertaut, setiap kali si wanita melepaskan tangannya untuk merapihkan rambutnya, tangan si pria bergerak mencari dan menariknya lagi ke posisi semula. Si pria tidak henti membelai jari-jari si wanita satu persatu.
Sesekali si wanita menempelkan bibirnya mendekat ke telinga si pria, mengucapkan gumaman yang tiap katanya lebih mirip dengan bahasa alien dibandingkan bahasa bumi. Tapi si pria mengangguk penuh senyuman seolah benar-benar memahami.
Sepanjang perjalanan mereka membuatku kagum sekaligus menggundahgulanakan perasaan Bunda ku.
"Ayahmu tidak pernah seperti itu, tidak akan pernah" lirih Bunda, saat pria itu membantu istrinya turun dari angkot merah ini.
Tangan mereka bertaut, setiap kali si wanita melepaskan tangannya untuk merapihkan rambutnya, tangan si pria bergerak mencari dan menariknya lagi ke posisi semula. Si pria tidak henti membelai jari-jari si wanita satu persatu.
Sesekali si wanita menempelkan bibirnya mendekat ke telinga si pria, mengucapkan gumaman yang tiap katanya lebih mirip dengan bahasa alien dibandingkan bahasa bumi. Tapi si pria mengangguk penuh senyuman seolah benar-benar memahami.
Sepanjang perjalanan mereka membuatku kagum sekaligus menggundahgulanakan perasaan Bunda ku.
"Ayahmu tidak pernah seperti itu, tidak akan pernah" lirih Bunda, saat pria itu membantu istrinya turun dari angkot merah ini.

No comments:
Post a Comment